Gempa berkekuatan 9 skala Richter dan Tsunami yang mengguncang negeri matahari terbit pada Jumat (11/03/2011) lalu, membuat Jepang menjadi luluh lantak. Bencana alam yang datang tiba-tiba itu tidak berhenti begitu saja. Muncul ancaman menakutkan berikutnya, yakni radiasi nuklir, seperti yang pernah terjadi pada 1945 lalu.
Saat Negara lain mengkhawatirkan kondisi keselamatan warga negaranya yang berada di negeri sakura pasca Tsunami, Jepang seakan membuka catatan sejarah lama yang tersimpan dalam lemari perpustakaan. Senjata nuklir milik Amerika berjuluk ‘Little Boy’ yang jatuh di Hiroshima dan ‘Fat Man’ di Nagasaki, seakan menjelma menjadi ‘Silent Grandfather’ di Fukushima.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Fukushima Daiichi yang dioperasikan Tokyo Electric Power Co, mengalami ledakan di bagian fasilitas reaktornya pada Sabtu (12/03/2011). Reaktor nuklir merupakan tempat berlangsungnya reaksi pembelahan inti nuklir. Adapun bagiannya adalah elemen bakar, batang kendali, moderator, pendingin, dan perisai.
Berdasarkan berita yang dilansir dari Kompas.com, ledakan ini mengakibatkan naiknya tingkat radioaktivitas sebesar 20 kali lipat dari sebelumnya. Ledakan fasilitas reaktor PLTN membuat pemerintah Jepang semakin kalang kabut. Sebanyak 110 ribu orang di wilayah dengan radius 20 kilometer dari lokasi PLTN, harus dievakuasi.
Meski radiusnya lebih kecil dibandingkan yang terjadi di Hiroshima (50 kilometer per segi) dan Nagasaki (100 kilometer per segi), bahaya yang ditimbulkan akibat radiasi nuklir di Fukushima haruslah menjadi perhatian serius. Kabarnya, sekitar 160 orang diduga terpapar radiasi nuklir, dan 19 orang sudah terpapar radiasinya.
Dampak Radiasi
Serangan bom atom pada 1945 membunuh 140 ribu orang di Hiroshima, 80 ribu orang di Nagasaki, dan ribuan orang yang tewas akibat radiasi nuklirnya. Sedangkan ledakan fasilitas reaktor PLTN di Fukushima belum diketahui sebesar apa pengaruhnya bagi keselamatan jiwa masyarakat yang ada di sekitarnya.
Menurut Detikhelath.com, dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir adalah mual muntah, diare, sakit kepala, dan demam. Dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah pusing, mata berkunang-kunang, disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu, kerontokan rambut dan kebotakan, muntah darah atau berak darah, tekanan darah rendah, luka susah sembuh. Sedangkan dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain kanker, penuaan dini, gangguan sistem saraf dan reproduksi, dan mutasi genetik.
sumber : http://luar-negeri.kompasiana.com